Jual benih padi Varietas SERTANI 13 Kab.Jember siap kirim se Indonesia

Hub.085646811154 - Ardy Wijaya (Jember-Jatim)

 photo addesign_zpsnilgpsun.gif

26 Mei 2015

Teknologi Pemilihan Malai Padi untuk Dijadikan Benih Berkualitas

Ilmu ini saya dapatkan pada hari Minggu 24 Mei 2015 ketika saya berkunjung ke salah satu petani yang telah lama menerapkan cara bertani ramah lingkungan. Petani tersebut biasa di panggil pak. Rudy. Beliau petani asal desa Penanggal, kecamatan Candipuro, kabupaten Lumajang. Ketika bertamu ke tempat pak. Rudy saya dibekali banyak ilmu pertanian yang belum saya dapatkan di bangku kuliah Fakultas Pertanian. Salah satu ilmu yang saya dapatkan adalah cara memilih malai padi dipertanaman padi yang bisa dijadikan benih untuk bisa ditanam kembali dengan kualitas seperti induknya. Jenis padi yang bisa ditanam kembali tentunya adalah padi inbrida, bukan padi hibrida. Padi inbrida biasanya mempunyai kelebihan tahan terhadap hama dan penyakit dibandingkan padi hibrida. Namun, menurut iklan padi hibrida bahwasannya hasil yang didapatkan lebih tinggi padi hibrida dari pada padi inbrida, tetapi itu hanyalah iklan dan tidak perlu kita percaya begitu saja. Jika kita bayangkan, bahwasannya padi hibrida mampu menghasilkan di atas 10 ton/ha, namun karena dia tidak tahan hama penyakit lalu ketika dipertanaman dia terserang xanthomonas oryzae atau terserang wereng, bisa diprediksi hasilnya akan jauh lebih rendah dari pada padi inbrida varietas lokal. Oleh karena itu sesama petani padi, saya menyarankan kepada semua petani Indonesia agar meninggalkan jauh-jauh padi Hibrida. Karena jika kita tetap menanam padi hibrida, maka kita menjadi korban penjajahan dan korban pembodohan.
Menanam padi hibrida berarti kita jadi korban penjajahan dan pembodohan, karena padi hibrida hanya menyengsarakan petani. Padi hibrida tidak tahan hama penyakit, ketika padi hibrida di tanam kita harus siap biaya lebih untuk membeli pestisida dan harus kita semprotkan pestisida itu secara teratur untuk menghindari padi hibrida kita dari infeksi penyakit atau hama. Padi hibrida juga sangat rakus hara, untuk mendapatkan hasil maksimal padi hibrida tidak bisa dipupuk hanya seadanya saja, pupuk yang digunakan harus berkali lipat dari padi inbrida dan tentunya juga menambah biaya produksi. Padi hibrida tidak bisa kita tanam kembali, hasil panen padi hibrida tidak bisa kita pilih untuk dijadikan bahan tanam pada musim tanam selanjutnya, karena padi hibrida adalah perkawinan dari pejantan dan betina unggul, maka ketika kita tanam kembali sifatnya akan berubah. Pesan saya kembali pada semua petani Indonesia "TINGGALKANLAH MENANAM PADI HIBRIDA!!!".

Kembali ke topik posting hari ini tentang pemilihan benih padi unggul dari pertanaman. Ketika kita menanam padi inbrida varietas lokal, maka kita telah tepat memilih padi tersebut. Karena varietas lokal adalah varietas yang sangat cocok untuk daerah dimana varietas lokal tersebut dilahirkan, artinya padi varietas lokal sangat mudah beradaptasi dilingkungan tersebut. Varietas lokal unggul yang paling terkenal saat ini adalah varietas padi SERTANI yang ditemukan oleh seorang petani asal pulau Sumatera yaitu Surono Danu. Padi Sertani mempunyai spesifikasi hasil tinggi dan tahan hama penyakit, namun sayangnya varietas tersebut tidak ada di toko pertanian, karena memang varietas tersebut milik petani, bukan milik toko pertanian.

Untuk menanam padi dimusim selanjutnya, kita tidak perlu harus membeli benih varietas lokal lagi ke toko pertanian. Selain harganya mahal, terkadang benih padi yang dijual di toko tidak mempunyai kualitas yang seragam, karena memang pemilihan benihnya kurang terjaga kemurniannya. Cara mendapatkan benih padi berkualitas dari padi yang telah kita tanam adalah sebagai berikut :
  1. Seleksilah rumpun padi yang mempunyai bentuk seragam, misalnya tingginya seragam, warna bulirnya seragam, dan bentuk daunnya seragam.
  2. Kemudian pilihlah malai yang paling tua dari setiap rumpun padi, biasanya setiap rumpun ada sekitar 3 malai yang paling tua, dan itu adalah anakan pertama, terletak di bagian tengah setiap rumpun.
  3. Ambillah malai yang paling tua tersebut beserta tangkainya. Ingat!!! jangan sampai seluruh rumpun padi diambil. Ambillah secukupnya yang sekiranya cukup untuk kita jadikan benih musim tanam selanjutnya.
  4. Keringkan malai yang telah kita ambil dari pertanaman tersebut dengan cara dikeringkan selama 5 hari.
  5. Setelah kering bisa kita simpan dahulu untuk menunggu musim tanam selanjutnya.


Kenapa harus 5 hari untuk mengeringkan malai yang telah kita pilih tersebut? jawabannya adalah supaya benih benar-benar kering dan mempunyai daya perkecambahan yang tinggi. Cara mengeringkanya juga tidak boleh sembarangan, harus hati-hati. Caranya adalah :
  • Pada hari pertama dikeringkan mulai jam 7 sampai dengan jam 8 pagi.
  • Pada hari kedua dikeringkan mulai jam 7 sampai dengan jam 9 pagi.
  • Pada hari ketiga dikeringkan mulai jam 7 sampai dengan jam 10 siang.
  • Pada hari keempat dikeringkan mulai jam 7 sampai dengan jam 11 siang.
  • Pada hari kelima dikeringkan mulai jam 7 sampai dengan jam 12 siang.

Cara di atas mempunyai tujuan supaya mata tunas bisa tetap segar, dan tidak terjadi stres pada benih. Jika kita langsung keringkan mulai jam 7 sampai dengan jam 3 sore, maka mata tunas akan mengkerut dan daya perkecambahannya pun akan menurun. Setelah kita keringkan bisa kita simpan di atas atap rumah kita dengan menggantung tangkai malai dengan tali, atau bisa kita rontokkan bulir padi dari tangkainya dan kita masukkan ke dalam toples atau apapun supaya aman dari gangguan.
Sekian cara memilih benih padi unggul berkualitas.
Bagi pembaca, jika ada pertanyaan silahkan posting di post comment. Terima kasih..

2 komentar: